UpdateNews – Adegan musik Indonesia selalu memiliki berbagai warna dan nuansa yang tidak pernah membosankan. Salah satu fenomena yang tidak bisa dilupakan adalah kemuliaan band 2000, yang lagu -lagunya masih terkait dengan hati para penggemar mereka sejauh ini.
Salah satu zona yang masih ada dan tak tergantikan adalah Radja. Dengan Ian Kasela sebagai penyanyi virtualnya, lagu -lagunya telah berhasil menjadi soundtrack kehidupan banyak orang yang mengikuti kisah cinta yang manis dalam kepahitan hati remaja di zaman mereka.
Namun, tidak hanya musik yang terus ia ingat, video musik Radja juga memiliki pesonanya sendiri. Mereka ditafsirkan oleh aktor dan aktor terkenal, penampilan mereka pada saat itu jelas berbeda dari gaya mereka saat ini.
Tertarik dengan transformasi video tanpa radio dari masa lalu ke sekarang? Periksa ulasan lengkap yang disusun oleh UpdateNews dari berbagai sumber, Selasa (25/5).
1. Sworddut Dewi Persssik muncul sekali dalam video musik Radja, berjudul Paracly. Meskipun disahkan selama bertahun -tahun, aura yang indah tidak pernah hilang.
Foto: YouTube/Penerbitan Penerbitan & Instagram/@Dewipersikreal
2. Band dengan lagu cinta ini juga memperkenalkan Tyas Mirasih di salah satu video musiknya. Kimia yang ditunjukkannya dalam musik, seperti Ian Kasela, membuatnya menjadi bapeiro.
Foto: YouTube/GP Records & Instagram/@tyasmirasih
3. Banyak orang tahu, Astrid Tiar juga berpartisipasi sebagai model video musik Radja, berjudul Call Me. Meskipun itu beberapa tahun, itu masih luar biasa dan menawan.
Foto: YouTube/Istanamusiku & Instagram/@Astridtiar127
4. Asmirandah dipilih oleh Radja untuk menjadi video musik dari lagunya berjudul Henan Saying Love. Dalam video musik, ia akrab dengan co -star -nya.
Foto: YouTube/GP Records & Instagram/@Asmirandah89
5. Selain kemenangan sebagai pemain film, wajah cantik Riani Cartwright pernah menghiasi video musik berjudul Don’t Murty Me. Orang tersebut tidak banyak berubah dari awal sampai sekarang, masih menawan.
Foto: YouTube/GP dan Instagram/@Riantic Records
6. Sebelum sukses sebagai host terkenal, Raffi Ahmad juga diselaraskan sebagai model klip video Radja Song berjudul Tourinary Human. Potret mencuri perhatian Anda di waktu Anda.
Foto: YouTube/GP Records & Instagram/@Raffinagita1717
7. Bukan hanya ratu novel, Nia Ramadhan akhirnya menjual dengan baik sebagai model rekaman video. Potret saat muncul di video musik berjudul Bulan Pangling.
Foto: YouTube/GP Records & Instagram/@Ramadhanibakrie A Glory of the Bands of 2000 -an Band dan Duplikasi mereka hari ini
Tahun 2000 -an tidak diragukan lagi merupakan periode emas untuk anak -anak band di Indonesia. Pada saat itu, industri musik negara itu penuh dengan band -band sukses yang menarik perhatian publik. Nama -nama seperti Peterpan (sekarang Nuh), Dewa 19, Ugu, Gigi, Sheila at 7 dan lainnya menjadi gambar yang mendominasi diagram. Musik mereka diputar di radio, televisi, untuk menjadi film soundtrack dan opera sabun.
Salah satu faktor utama kemuliaan band pada saat itu adalah media yang masih sangat berpengaruh, terutama televisi dan radio. Acara musikal seperti MTV yang efektif, kuat dan menerima adalah iklan utama untuk musisi. Selain itu, industri alam, seperti penjualan CD, masih merupakan indikator keberhasilan band, banyak yang bersaing untuk produksi album berkualitas.
Namun, seiring dengan waktu, popularitas anak -anak band mulai menurun. Kemajuan dalam teknologi dan perubahan dalam citarasa musik orang membuat band ini tidak lebih dominan. Kehadiran platform digital seperti YouTube, Spotify dan Tiktok telah mengubah cara orang menyukai musik. Sekarang solois dan musisi independen lebih mudah untuk bekerja dan dikenal tanpa harus berpartisipasi dalam sebuah band.
Selain itu, tren musik juga menunjukkan perubahan. Musik pop, EDM, Hip Hop dan K-Pop lebih diperlukan daripada generasi muda. Banyak band merasa sulit untuk mengadaptasi selera Pasar Baru sehingga prestise mereka mulai menghilang.
Namun, beberapa band masih dapat bertahan hidup dan terus bekerja, seperti Nuh, Seila pada usia 7 dan Dewa 19. Mereka masih memiliki basis penggemar yang setia yang terus mendukung. Namun, tidak dapat dipungkiri bahwa waktu kemuliaan band, seperti pada tahun 2000 -an, mengubah tantangan untuk bersaing dengan band -band baru.